Daftar Data Rahasia yang Harus Dirahasiakan sebelum Transaksi Online

5 Tips Investasi di Masa Muda agar Tidak Merugi di Masa Tua(UNSPLASH/Carlos Muza)

Atur Duit – Terjadinya kebocoran data pribadi dalam transaksi online dapat terjadi baik dari pihak penyelenggara maupun pengguna atau masyarakat. Keduanya sama-sama bertugas untuk menjaga data rahasia dalam proses transaksi online.

Disebut dengan istilah “fintech”, financial technology merupakan layanan keuangan berbasis teknologi yang dewasa ini kian menjamur. Fintech memiliki beragam jenis, misalnya fintech lending untuk menyebut jenis jasa pinjam meminjam secara online, layanan ini lebih dikenal dengan nama pinjaman online.

Tidak hanya pinjaman online, transaksi online lainnya misalnya belanja online hingga investasi juga berpotensi akan kebocoran data pribadi. Padahal, seharusnya data pribadi tidak boleh diketahui oleh pihak lain yang tidak melakukan transaksi online bersangkutan.

Dilansir melalui laman Kementrian Komunikasi dan Informatika, pihak penyelenggara dalam hal ini adalah jasa fintech juga berpotensi mengalami kebocoran data pribadi konsumen. Hal ini disebabkan karena transaksi online terus menerus yang terjadi setiap waktu.

Direktur Tata Kelola Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Mariam F. Barata menyebut bahwa kebocoran data terjadi dari sisi pengendali dalam hal ini  penyedia jasa seperti fintech, maka pihak mereka wajib untuk memberikan pemberitahuan pada pemilik data pribadi, dan melaporkan pada Kementrian Kominfo maupun kepada masyarakat.

Lebih lanjut, pemberitahuan tersebut wajib disampaikan secara tertulis paling lambat tiga hari atau 3 x 24 jam. Laporan ini diberikan kepada menteri yang bersangkutan, misalny Menkominfo, dan juga pemilik data pribadi yang mengalami kebocoran.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) sebagai salah satu regulator resmi layanan fintech di Indonesia telah memberikan beberapa imbauan mengenai data pribadi apa saja yang wajib dirahasiakan oleh masyarakat.

Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi potensi kebocoran data pribadi dalam transaksi online yang dapat mengenai siapa saja dan dalam jenis transaksi apa saja.

Menurut Bank Indonesia sebagai salah satu lembaga yang terlibat langsung dalam proses operasional dan pengawasan layanan fintech di Indonesia, setidaknya terdapat empat data pribadi yang dari sisi pengguna dalam hal ini masyarakat tidak boleh disebar.

Keempat data pribadi tersebut adalah User ID, PIN, Password, dan Kode OTP. Terutama karena hal-hal di atas adalah kode keamanan akun pengguna bersangkutan.

BI mengimbau agar masyarakat tidak mau diarahkan untuk memberitahu kode rahasia di atas kepada pihak yang mengaku operator penyelenggara atau layanan fintech yang digunakan, termasuk melalui pengisian link atau tautan.

Tips lain yaitu dengan membuat password atau kata kunci yang tidak mudah ditebak, jangan gunakan tanggal lahir atau nama.

Selain empat data di atas, data pribadi lain seperti nomor telepon, surel (email) alamat, nomor identitas, dan sebagainya jangan disebarkan di media sosial.

Menjaga data pribadi baik oleh penyelenggara maupun pengguna layanan transaksi online wajib dilakukan. Terutama karena data pribadi yang tersebar dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan digital atau cyber crime.

Pihak Polda Metro Jaya menyebut bahwa sepanjang tahun 2022 kejahatan digital dalam bidang fintech terutama layanan pinjaman online menjadi salah satu kejahatan digital yang paling sering dilaporkan.***