Mengenal Sistem Ekonomi Kerakyatan di Indonesia

ekonomi kerakyatan

Pemerintah lewat Kementerian Keuangan akan menerbitkan Sukuk Tabungan seri ST 008 di bulan November 2021 mendatang, SBN atau Surat Berharga Negara Ritel seri ke-6 atau yang terakhir pada tahun 2021 ini akan diterbitkan dengan mengusung prinsip syariah.

Untuk para investor, khususnya bagi generasi milenial yang mau berinvestasi dengan produk investasi halal dan berdasarkan prinsip syariah, Itu berarti ST008 menjadi pilihan yang paling tepat, selain aman, bisa menghasilkan uang pun dengan cara yang halal.

Luky Alfirman selaku Dirjen Pengelolaan Pembiayaan serta Risiko Kemenkeu mengatakan bahwa tren dari generasi milenial yaitu orang yang lahir kisaran tahun 1980 sampai 2000, selalu mendominasi pemesanan Surat Berharga Negara, khususnya dari diterbitkannya SBN ritel yang dijual melalui online.

Apa alasannya SBN Ritel cukup banyak peminat? Setidaknya terdapat lima keuntungan bila investor melakukan investasi pada SBN Ritel yaitu mendapatkan uang sekaligus dan secara langsung memberikan bantuan ke pemerintah dalam hal penyediaan dana untuk ikut menopang APBN.

Selain termasuk upaya membantu negara dan mendapatkan uang, berikut ini keuntungan yang didapatkan ketika membeli Sukuk Tabungan, yang merupakan salah satu dari beberapa jenis SBN Ritel yang terakhir diterbitkan oleh pemerintah di tahun 2021. Keuntungannya, antara lain:

1.    Dijamin oleh Pemerintah 100%

Undang-Undang No.19 Tahun 2008 mengenai Surat Berharga Syariah Negara serta Undang-Undang mengenai APBN, yang menjamin pembayaran pokok serta imbalan sukuk, dan merupakan salah satu bentuk dari SBN

Maka dari itu Anda sebagai seorang investor tidak perlu cemas uang akan hilang atau nilai investasi berkurang.Pastinya imbalan akan sepenuhnya atau 100%, Jadi jika ada seorang investor membeli sampai 3 miliar sekalipun, tentu seluruh uang akan dijamin kembali. Lain halnya dengan produk deposito yang dijamin oleh LPS hanya sampai pada nominal 2 miliar saja.

2.    Tingkat Imbalan Sangat Kompetitif

Imbal hasil atau keuntungan yang diberikan oleh sukuk berupa dana sewa dengan persentase tertentu berdasarkan prinsip syariah Islam dan terlepas dari unsur riba. Keuntungan dari sukuk tersebut, akan diberikan secara berkala setiap bulannya serta nilai pokok dari modal Anda akan dibayarkan di saat sudah masuk jatuh tempo yaitu setelah 2 tahun.

Imbal hasil sukuk umumnya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dari rata-rata besaran bunga deposito suatu bank. Dengan jangan simpan sampai 2 tahun, pastinya investor dapat merasakan keuntungan yang jauh lebih besar daripada hanya menabung uang di bank.

3.    Early Redemption

Walaupun Sukuk Tabungan tidak dapat diperdagangkan, instrumen tersebut dapat dicairkan  lebih awal dan tanpa dikenakan beban biaya oleh pemerintah. Jika melihat seri Sukuk Tabungan yang sebelumnya, pemerintah pusat menetapkan biaya transaksi awal paling kecil 1 juta rupiah per unit yang mana jumlah yang dapat dicairkan di awal, serta maksimal nilainya separuh dari investasi awal, dan minimal investasi yang dapat melakukan pencairan pertama yaitu 2 juta rupiah.

4.    Akses Online

Untuk transaksi pembelian investasi berupa Sukuk Tabungan serta pengajuan pengajuan pencairannya sebelum masuk jatuh tempo, bisa dilakukan lewat sistem elektronik sebab Sukuk Tabungan adalah jenis SBN ritel yang memang ditawarkan melalui online.

5.    Halal dan Bebas Riba

Untuk orang-orang atau seorang investor yang memang menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam, tentu investasi seperti yang ditawarkan Sukuk Tabungan dapat menjadi pilihan yang tepat, sebab seluruh proses transaksi bebas dari yang namanya riba, maysir dan gharar.

Perbedaan Antara Sukuk dan Obligasi Konvensional

Terdapat sebuah perbedaan antara Sukuk dengan obligasi konvensional pada prakteknya, dimana Sukuk lebih menekankan pada sifat. Seperti contoh, penyertaan barang milik negara dalam wujud fisik misalnya infrastruktur apapun, sebab turut berkontribusi dalam hal membantu pendanaan pembangunan tersebut. Hal ini tentu berbeda dari penerapan obligasi konvensional yang biasa berwujud surat utang negara.

Berbeda dengan sistem obligasi konvensional yang memberi return bagi investor dalam bentuk kupon, untuk pengembalian sukuk umumnya berupa bagi hasil, atau dari sumber lain berdasarkan akan yang sudah ditetapkan.

Negara Penerbit Sukuk Akan Menjamin Pengembalian Pokok

Terdapat dua akad di dalam pembelian sukuk, antara lain:

1.    Mudharabah atau Bagi Hasil

Mudharabah yang berarti pembelian sukuk dapat memperoleh bagi hasil keuntungan yang diperoleh dari pembangunan yang sudah dilakukan menggunakan uang sukuk, seperti penghasilan dari jalan tol.

2.    Akad Ijarah

Akad ini yang berarti obligasi syariah dan menggunakan akad sewa, sehingga fee ijarah atau kupon sifatnya tetap, dan dapat diperhitungkan atau diketahui dari pertama obligasi tersebut diterbitkan.

Entah itu obligasi konvensional maupun syariah yang sudah diterbitkan oleh pemerintah, mempunyai risiko kegagalan bayar yang kecil sebab pengembalian pokok serta imbal hasil dijamin langsung oleh negara. Nilai imbal kedua umumnya lebih tinggi jika dibandingkan oleh produk simpanan dana di bank.