Pengertian Obligasi Syariah Beserta Jenisnya

obligasi syariah

Sekarang ini obligasi telah menjadi suatu instrumen investasi yang banyak digemari oleh para kalangan milenial. Dengan modal serta resiko yang tidak begitu besar dalam berinvestasi membuatnya cocok untuk yang masih pemula. Pengertian obligasi sendiri yaitu surat pinjaman tertentu dari pemerintah dan dapat diperjualbelikan.

Maka dari itu obligasi dapat dikatakan surat hutang piutang yang memiliki jangka waktu dan mempunyai bunga tertentu. Di Indonesia terdapat dua jenis obligasi, yakni obligasi konvensional dan syariah. Akan tetapi pada pembahasan kali ini akan mengenai obligasi dengan basis syariah yang terdapat di Indonesia.

Pengertian Obligasi Syariah

Istilah obligasi juga dikenal sebagai sukuk maupun sertifikat. Maka dari itu disimpulkan jika pengertian dari obligasi syariah yaitu alat investasi maupun transaksi yang menerapkan sistem pembiayaan serta pendanaan sesuai pada hukum syariat Islam.

Obligasi syariah merupakan pernyataan hutang dari pihak instansi penerbit untuk pemegang obligasi dengan disertakan janji membayar pokok hutang yang telah disertai dengan kupon bunga ketika jatuh tempo pembayaran, akan tetapi penerapannya mengikuti ketentuan pada syariat.

Jenis obligasi syariah yang terdapat di Indonesia

Berbeda pada penerapan obligasi pada umumnya, obligasi syariah terbagi menjadi beberapa jenis dengan berdasarkan tujuan pada transaksinya masing-masing, yaitu:

  • SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)
  • Ijarah
  • Korporasi
  • Musyarakah
  • Muzara’ah
  • Mudharabah
  • Wakalah
  • Istishna

1. SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)

SBSN atau Surat Berharga Syariah Negara maupun sukuk negara diterbitkan dengan berdasarkan nilai-nilai pada penerapan syariat dengan negara yang menjadi pihak penerbit. SBSN juga digunakan untuk bukti pembagian aset. SBSN sendiri merupakan instrumen investasi yang berbentuk utang-piutang tanpa riba.

Kelancaran pembayaran serta imbal hasil sukuk tersebut dijamin oleh negara. Dimana negara mewajibkan emiten dalam membayar pendapatan kepada pihak pemegang obligasi syariah tersebut yang berbentuk bagi hasil dan membayar kembali dana obligasi ketika jatuh tempo. 

2. Sukuk ijarah

Sukuk ijarah merupakan sertifikat yang beratas namakan pemilik itu sendiri atau juga investor dan juga melambangkan kepemilikan pada suatu aset yang memiliki tujuan untuk disewakan.

3. Sukuk korporasi

Jenis berikutnya yaitu sukuk korporasi. Obligasi syariah tersebut diterbitkan oleh suatu lembaga usaha maupun perbankan dimana memiliki prinsip syariah yang menjadi sistem pada kerja dasarnya. Tidak semua perusahaan dapat menggunakan sukuk korporasi ini, terutama bagi suatu perusahaan yang bersifat konvensional.

4. Sukuk musyarakah

Sukuk musyarakah ini dikeluarkan dengan berdasarkan perjanjian maupun kontrak dari dua pihak maupun lebih yang bekerja sama dalam menggabungkan modal untuk membangun proyek baru maupun membiayai kegiatan bisnis lainnya. Obligasi jenis ini menanggung bersama keuntungan maupun kerugian sesuai pada besaran penyertaan modal seluruh pihak yang bekerja sama.

5. Sukuk muzara’ah

Jenis obligasi ini diterbitkan dengan memiliki tujuan utama dalam mendapatkan dana untuk digunakan membiayai kegiatan pertanian dengan berdasarkan kontrak. Pada sukuk muzara’ah, pemilik sukuk berhak mendapatkan sebagian hasil panen yang telah terkait dalam perjanjian yang dibuat sebelumnya.

6. Sukuk mudharabah

Sukuk akad mudharabah ini merupakan bentuk kerja sama dari satu pihak yang menyediakan modal serta pihak lainnya yang menyediakan tenaga. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi dengan berdasarkan perbandingan yang dibuat serta disepakati sebelumnya. Semua bentuk kerugian akan dibebankan sepenuhnya kepada penyedia modal.

7. Sukuk wakalah

Sukuk wakalah merupakan obligasi yang mewakili beberapa kegiatan bisnis maupun proyek yang sedang dikelola melalui penunjukan dari perwakilan agar dapat mengelola beratasnamakan para pemegang sukuk.

8. Sukuk istishna

Sukuk ini diterbitkan sesuai pada perjanjian maupun kontrak, dimana pihak yang terlibat menyetujui membeli maupun menjual dalam suatu konteks pembiayaan barang.harga, waktu pengiriman hingga spesifikasi mengenai proyek juga telah ditentukan sebelumnya dalam perjanjian.

Karakteristik obligasi bersifat syariah

Setelah mengetahui pengertian obligasi syariah dan jenis-jenisnya, kemudian Anda juga perlu memahami karakteristiknya juga. Berikut karakteristik dari obligasi syariah dimana menjadi pembeda pada instrumen investasi lainnya.

  • Mekanisme dari obligasi syariah terdapat dalam pengawasan dari pihak wakil amanat dan juga Dewan Pengawas Syariah dan keduanya berada di bawah naungan dari MIU atau Majelis Ulama Indonesia. pengawasan tersebut berlaku mulai dari tanggal penerbitan obligasi sampai akhir masa penerbitannya.
  • Sumber pendapatan pada obligasi syariah lebih mengutamakan tingkat rasio pada bagi hasil atau juga nisbah. Nominal besaran dari hasil tersebut juga telah disepakati antara investor dan emiten.
  • Kemudian jenis industri yang dilakukan emiten serta hasil pendapatan dari perusahaan yang menerbitkan sukuk tersebut wajib memegang prinsip syariah yang dalam artian tidak boleh memiliki unsur maupun jenis industri yang memiliki prinsip non-halal seperti pada industri konvensional.

Tidak ada bunga dalam obligasi syariah. Pengembalian dana yang mengenai aset, akad serta tujuan pendanaan biasanya berbentuk berupa imbalan yang akan didapatkan melalui uang sewa, fee margin, serta bagi hasil maupun sumber lainnya dan sesuai pada akad yang disepakati.

Pada konsep pengertian obligasi syariah, perdagangan tidak dinilai melalui bentuk surat utang, akan tetapi dari penjualan terhadap kepemilikan suatu aset yang menjadi dasar pada penerbitan.