Perbedaan Generasi Z dan Generasi Milenial dalam Mengelola Uang

investasi reksadana

Kebebasan finansial bisa dicapai dengan bijak mengelola keuangan. Namun pada prakteknya memang tak semudah dibayangkan. Apalagi kalau penghasilan masih pas-pasan, sudah hidup hemat sekalipun sulit untuk menabung. Bayangkan bagaimana jadinya nanti jika hidup dengan gaya generasi milenial dan gen z yang tinggi, keuangan pasti langsung terguncang.  

Berbagai cara terbaik diterapkan untuk mempertahankan keuangan supaya tetap stabil, namun kebanyakan orang malah memilih cara paling sederhana untuk mengatur finansialnya. Nah, itulah yang sering terjadi pada generasi Z dan generasi milenial saat ini. Walau keduanya mempunyai beberapa kesamaan dalam cara mengatur keuangan, ternyata dalam beberapa hal juga terdapat perbedaan jelas. Kira-kira apa saja itu?

Gaya Menabung

Gaya hidup generasi milenial tak setinggi generasi Z, sehingga masing-masing memiliki cara menabung yang berbeda. Jumlah tabungan generasi Z jauh lebih sedikit karena uang banyak terpakai untuk memenuhi kebutuhan yang keinginan. Tapi untungnya generasi ini sudah sadar akan manfaat investasi, jadi mereka dapat memperoleh pemasukan tambahan untuk meningkatkan jumlah penghasilan bulanan. Generasi Z sudah tahu bagaimana cara menjamin masa tuanya, sehingga mereka melakukan investasi untuk mengisi rekening tabungan dengan pundi-pundi rupiah.

1. Memilih Lembaga Pendidikan yang Sesuai Kemampuan Finansial

Perbedan selanjutnya mengenai cara mengelola keuangan antara generasi Z dan generasi milenial terletak pada lembaga pendidikan yang dipilih. Kalau generasi milenial, mereka akan mengutamakan kualitas dari lembaga tersebut. Namun untuk generasi Z, mereka lebih memilih pendidikan yang biayanya tidak terlalu menguras kantong.

Bisa dibilang pandangan generasi Z kebalikan dari generasi milenial, itu karena mereka tidak rela kalau uangnya habis dipakai untuk belajar saja. Generasi Z akan lebih senang kalau uangnya dipakai untuk mengasah minat dan bakat, membangun bisnis, serta modal untuk mencari pundi-pundi uang yang lebih banyak.

2. Membeli Barang Berkualitas dengan Harga Murah

Gaya hidup generasi Z memang tinggi, tapi untuk urusan belanja barang mereka tidak mau terkesan impulsif. Menurutnya, barang dengan harga murah tapi berkualitas adalah pilihan yang tepat. Dengan begitu, porsi untuk makan di luar, nongkrong, traveling, dan lain-lain bisa lebih banyak. Apalagi saat ini harga barang di toko online jauh lebih terjangkau dan murah dari belanja di offline store.

Bagaimana pandangan generasi milenial akan hal tersebut? Kalau mereka lebih mementikan merk atau brand dari barang yang dibeli. Merk sering dijadikan simbol untuk menunjukkan status ekonominya kepada orang lain, dan tanpa mengabaikan kualitas dari barang tersebut. Jadi wajar kalau kita melihat perbedaan mencolok antara gaya berpakaian fancy ala generasi milenial dengan generasi Z yang lebih casual.

3. Cenderung Menghindari Hutang

Generasi Z bukan tipikal yang suka berhutang, meskipun mereka harus memenuhi gaya hidup yang tinggi. Agar semua kebutuhannya terpenuhi, mereka akan mengalokasikan penghasilan per bulan secara teliti, termasuk untuk belanja dan nongkrong. Generasi Z tak akan mempertahankan gengsi di masyarakat dengan berhutang, mereka cenderung memilih menabung untuk membeli barang yang diinginkan.

Pandangan ini berbeda dari generasi milenial yang menganggap hutang sebagai alat untuk menciptakan peluang baru. Biasanya digunakan untuk meningkatkan pendapatan dari membuka bisnis. Mereka tak terlalu memikirkan risiko gagal bayar utang, urusan bunga pun dipikirkan belakangan. Yang penting itu bisnis berjalan sukses dan labanya bisa digunakan untuk membayar cicilan.

4. Berburu Diskon

Sepertinya tidak ada satupun orang yang tidak suka diskon, baik generasi Z dan milenial. Lalu apa bedanya? Kalau generasi milenial tampak kurang peduli dengan kondisi keuangan, meskipun pengeluarannya sudah banyak dan melebihi rencana Mereka bahkan rela memenangkan beberapa pos pengeluaran untuk bisa mendapatkan barang yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan.

Sedangkan generasi Z akan lebih berhati-hati saat memanfaatkan diskon. Mereka mampu bersikap lebih realistis dan manfaat dari barang yang akan dibeli. Kalau kondisi keuangan tidak mencukupi, maka mereka tak akan tergiur dengan diskon tersebut.

5. Membayar Tunai

Generasi Z lebih bertransaksi secara tunai karena tidak suka menimbun hutang. Baik itu saat belanja kebutuhan bulanan atau ketika makan di kafe mahal, mereka akan membayar tagihan dengan cash. Kalau ada promo cashback baru mungkin akan menggunakan alat pembayaran seperti kartu debit dan e-wallet. Berbeda dari generasi milenial, pasti langsung beli barang yang disukainya meski harus bayar secara mencicil dengan kartu kredit.

6. Keinginan Terhadap Varian Produk

Lebih baik beli barang murah tapi dapat banyak daripada beli barang mahal hanya bisa dapat satu. Seperti inilah prinsip belanja generasi Z yang tak rela menghabiskan banyak uang untuk membeli satu barang saja. Wajar kalau barang generasi tersebut lebih banyak dan bervariasi dari generasi milenial.

Itulah perbedaan jelas mengenai cara mengelola keuangan antara generasi Z dan generasi milenial. Meskipun gaya keduanya berbeda, tapi tidak semua finansial mengelola keuangan sesuai generasinya. Yang terpenting itu Anda telah menemukan cara olah finansial terbaik menurut versi sendiri, tidak perlu mengikuti gaya orang lain karena penghasilan dan kebutuhan hidup setiap orang itu berbeda. Semoga artikel ini bermanfaat.