Perhitungan Potongan BPJS Ketenagakerjaan Pada Gaji Karyawan

potongan BPJS Ketenagakerjaan

Jika Anda sudah mulai masuk kerja, namun tidak mengerti mengerti cara menghitung potongan BPJS ketenagakerjaan. Sebetulnya cara menghitung potongan BPJS Ketenagakerjaan untuk karyawan tidaklah sulit dan bahkan sudah ada di dalam peraturan yang disahkan pemerintah No. 84 tahun 2013.

Semua program perlindungan di dalam BPJS Ketenagakerjaan, mempunyai perhitungan yang juga berbeda. Dibawah ini terdapat cara menghitung berdasarkan program yang ada, seperti jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun sampai jaminan kematian. Selengkapnya ada di penjelasan berikut ini:

Jaminan Hari Tua

Apabila Anda telah terdaftar di program JHT atau Jaminan Hari Tua, maka Anda akan menerima sejumlah uang tunai. Sejumlah uang di program JHT ini segera diberikan ke peserta program apabila terjadi satu diantara tiga hal yang ada pada berikut:

  • Peserta yang telah berusia 56 tahun atau telah pensiun
  • Peserta telah meninggal dunia dan akan diserahkan ke ahli waris
  • Peserta cacat total

Besaran untuk iuran JHT yaitu 5,7% dari total upah karyawan. Perhitungan pada BPJS Ketenagakerjaan dalam program JHT tersebut terbagi menjadi 2 jenis yaitu, perusahaan dengan iuran 3,7% dan karyawan 2%.

Berikut ini contoh perhitungannya, upah karyawan A yaitu Rp15.000.000

Iuran JHT karyawan A adalah 5,7% x Rp.15.000.000 yaitu Rp855.000/bulan

Iuran JHT oleh karyawan A, 2% x Rp15.000.000 yaitu Rp300.000/bulan

Iuran JHT perusahaan 3,7% x Rp10.000.000 yaitu Rp.555.000/bulan

Agar dapat mencairkan JHT 10 dan 30 persen oleh seorang peserta yang sedang bekerja, yaitu telah menjadi peserta dengan minimal waktu 10 tahun. 10 % tersebut diperuntukan dana persiapan pada pensiun, 30% biaya perumahan.

Selain daripada itu, dalam pencairan JHT 100% sendiri untuk peserta yang tidak bekerja dikarenakan PHK atau resign dan memenuhi beberapa syarat berikut:

  • Peserta harus menunggu minimal sebulan setelah keluar dari pekerjaan.
  • BPJSTK wajib memiliki paklaring
  • Memiliki kartu BPJS
  • Kepesertaan pada BPJS telah nonaktif
  • Membawa dokumen untuk persyaratn pencairan dan JKK

Jaminan Kecelakaan Kerja

Program JKK atau Jaminan Kecelakaan Kerja merupakan program yang dapat memberikan perlindungan dalam risiko kecelakaan terkait pada hubungan kerja, termasuk dalam commuting kerja. Akan tetapi, setiap pekerja memiliki risiko yang berbeda maka dari itu iuran untuk setiap resiko tersebut juga berbeda.  Berikut beberapa iuran yang perlu dibayar dengan menyesuaikan tingkat resikonya:

  • Sangat tinggit 1,74%
  • Tinggi 1,27%
  • Sedang 0,89%
  • Rendah 0,54%
  • Sangat rendah 0,24%

Tingkat resiko wajib dievaluasi tiap karyawan dalam 2 tahun sekali. Iuran pada JKK dibebankan oleh perusahaan dan merupakan penghasilan bruto dari karyawan tambahan. Apabila upah yang dibayarkan secara harian, maka upah dalam sebulan dihitung melalui upah harian yang telah dikalikan 25. Kemudian jika upah dibayarkan dengan borongan atau satuan, maka upah dalam sebulan dihitung melalui upah rata-rata dalam 3 bulan terakhir.

Contoh perhitungan, karyawan B mempunyai pekerjaan dimana pekerjaan tersebut memiliki risiko kecelakaan kerja yang rendah. Upah yang diperoleh karyawan B yaitu Rp.4.500.00. Perhitungan program JKK untuk karyawan B yaitu: 0,54% x Rp.4.500.000 total Rp.24.300/bulan.

Jaminan Kematian

Perhitungan selanjutnya yaitu dari program Jaminan Kematian. Program ini merupakan program yang dapat memberikan peserta manfaat uang tunai. JKM sama seperti program JKK yang merupakan komponen penambah. Uang tunai tersebut akan diserahkan ahli waris peserta apabila meninggal bukan dikarenakan oleh kecelakaan kerja. Besaran uang tunai tersebut yaitu:

  • Biaya pemakaman Rp3.000.000
  • Santunan berkala.Rp 12.000.000
  • Biaya untuk ahli waris Rp36.000.000
  • Santunan kematian Rp 20.000.000

Untuk peserta yang memiliki masa iuran 3 tahun akan diberikan uang dengan maksimal Rp.174.000.000 serta beasiswa untuk 2 anak dari TK hingga kuliah. Iuran JKM sepenuhnya akan dibebankan pada perusahaan. biaya untuk setiap bulan yaitu 0,3% dari total upah dalam 1 bulan.

Contoh, Karyawan L memiliki upah sebesar Rp10.000.000/bulan. Maka iuran yang wajib dibayar perusahaan dalam jaminan kematian karyawan tersebut yaitu: 0,3% x Rp10.000.000 = Rp.30.000/bulan

Jaminan Pensiun (JP)

Berikutnya perhitungan pada program Jaminan Pensiun. Apabila seorang karyawan terdaftar pada program jaminan pensiun, pada saat masuk usia pensiun nantinya menerima uang setiap bulan. Besaran iuran JP yaitu 3% dari total upah dalam 1 bulan dan pembayaran tersebut 1% dibebankan karyawan dan 2,2% dibebankan perusahaan.

Berikut ini contoh perhitungannya

Iuran Karyawan T, 3% X Rp.7.000.000 yaitu Rp.210.000/bulan

Iuran perusahaan, 2% x Rp.7.000.000 yaitu Rp.140.000/bulan

Iuran oleh Karyawan T, 1% x Rp.7.000.000 yaitu Rp.70.000/bulan

Itulah pengertian dan bagaimana cara menghitung potongan BPJS ketenagakerjaan yang perlu untuk diketahui. Mulai dari perhitungan pada program jaminan hari tua, program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian dan program jaminan pensiun dengan contoh yang mungkin dapat memudahkan Anda dalam melakukan perhitungan.